Masuk

Ingat Saya

Pars pro Toto terorisme Indonesia

Isu terorisme di Indonesia telah menjadi isu nasional yang terkait antara satu dengan lainnya. Menjadi kisah yang seakan yang tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimanapun dan kapanpun di belahan bumi Indonesia kisah ini belum ada tanda akan berakhir.

Indonesia itu luas. Terdiri dari banyak pulau yang dipisahkan oleh lautan penghubung. Dari Sabang sampai Merauke adalah satu kesatuan walaupun terdiri dari banyak suku dan bangsa namun tetap terjaga keutuhannya.

Hal ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang menamakan diri mereka”teroris” untuk memecah belah persatuan dan kesatuan yang telah lama menjadi bagian dari negara Indonesia. Suku bangsa dan budaya yang berbeda rupanya menjadi celah bagi mereka. Didukung perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mereka masuk kedalam tiap budaya dan menyusupkan hal hal yang bisa memicu perdebatan antar suku yang satu dengan suku yang lain , antara budaya yang satu dengan budaya yang lain.

Pars pro toto, bagi mereka yang mempelajari tentang ilmu bahasa istilah ini bukanlah suatu hal yang baru. Pars pro toto adalah bagian dari majas sinokdoke yang berarti bahwa sesuatu yang sebagian mewakili keseluruhan seperti kata batang hidung mewakili keseluruhan dari tubuh manusia itu sendiri. Loh apa hubungannya dengan terorisme Indonesia?

Yup, mereka yang menamakan diri mereka sebagai “teroris” telah berhasil menyusup dan menanamkan dalam pikiran bawah sadar masyarakat bangsa Indonesia bahwa ada “agama” tertentu, ada “suku” tertentu yang menyebarkan paham terorisme bahkan menjadi bagian dari teroris itu sendiri. Kurangnya rasa nasionalisme serta media, terutama media sosial yang secara terus-menerus mencekoki pemahaman kaum muda (brainwash) dengan hal hal yang memicu perpecahan. Miris memang, namun tidak bisa kita pungkiri bahwa media sosial lebih dekat pada kaum muda dibandingkan dengan buku cerita kepahlawanan.

Kaum muda yang telah di brainwash ini kemudian dengan tanpa ba bi bu langsung menuduh suku/agama lain tersebut yang mereka anggap sebagai biang terorisme. Mereka sama sekali melupakan bahwa dahulu para pahlawan yang terdiri dari suku dan agama yang berbeda telah berjuang mempertaruhkan nyawa mereka agar Indonesia bisa meraih kemerdekaan seperti sekarang ini. Namun perjuangan kemerdekaan mereka seakan sia sia karena kita yang menjadi penerus malah saling mencurigai.

Pars pro toto terorisme Indonesia hanya menciptakan ketakutan antara kita sendiri. Melebarkan peluang mereka yang mengadu domba kita dan saudara kita dari lain suku. Antar suku telah saling mencurigai, antar agama bisa saling menyalahkan. Oknum yang berbuat namun kesalahan ditimpakan pada seluruh anggota suku maupun agama tersebut. Pars pro toto terorisme Indonesia, tidak menciptakan Indonesia bebas terorisme, malah menimbulkan konflik baru yang tak berujung. Salam damai.

#DutaDamaiDuniaMaya

Dengan