Masuk

Ingat Saya

Janji Bidadari

Alkisah, tersebutlah disuatu negara antah berantah yang sangat kaya akan hasil bumi dan kekayaan alam lainnya, hidup seorang pemuda. Pemuda ini adalah seseorang yang sedang dalam pencaharian jati diri, dan sedang berada dalam ketakutan akan nasib masa depannya.

Ketakutan akan masa depan yang tak pasti, sang pemuda mencoba meniti jalannya sendiri. Jalan yang sang pemuda yakin adalah jalan terbaik baginya dan bagi depannya. Sang pemuda pun menelisik lebih jauh mengenai hidupnya, tapi ia mencoba menelisik melalui indra orang lain.

Pertama, ia menemui seorang pertapa tua, yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Ia bertanya mengenai hakikat hidup. Sang pertapa tidak banyak bicara namun mempersilahkan sang pemuda untuk tinggal bersamanya selama beberapa hari. Namun di akhir harinya bersama sang pertapa, pemuda tersebut kecewa karena sang pertapa hanyalah bersikap manis di depan orang banyak.

Kecewa dengan sang pertapa, si pemuda menemui sepasang suami istri tua di pinggir hutan. Mereka adalah penunggu setia hutan selama generasi yang silih berganti. Si pemuda berpikir bahwa dengan kesetiaan mereka dapat diambil hikmahnya. Alangkah terkejutnya si pemuda ketika ia mencoba mendekati gubuk mereka. Pasangan yang didengungkan oleh masyarakat sebagai cinta dalam maut itu ternyata sedang cekcok dan melontarkan sumpah serapah. Ah, bukan pelajaran yang baik, pikirnya.

Si pemuda melanjutkan perjalanan dan bertemu ia dengan pemuda lainnya yang sebaya. Si pemuda akhirnya berpikir bahwasanya yang mengerti dirinya hanyalah pemuda lainnya. Pemuda lain tersebut pun memanfaatkan kesempatan ini untuk meyakinkan si pemuda mengenai Janji Bidadari. Si pemuda pun tertarik untuk menjemput bidadarinya yang telah menunggu kedatangannya di nirwana walaupun dengan syarat agar sang pertapa dan sepasang suami istri itu dijadikan tumbal.

Akhir kisah, sang pertapa dan sepasang suami istri menjadi penebus syarat akan janji bidadari si pemuda. Si pemuda yang ketahuan membunuh pun dijadikan bulan bulanan oleh warga. Senyum tersungging di bibir si pemuda bilamana maut datang menjemputnya. Berharap janji bidadari segera terwujud, namun apa di nyana, tak seperti yang ia harapkan. Sosok raksasa taring tajam berpedang yang hadir dan menariknya tinggi ke awan. Si pemuda tak mampu berkata. Si pemuda tak sanggup meminta pertolongan. Lenyap. Musnah.

Antah berantah adalah Indonesia. Sang pertapa adalah pemimpin. Sepasang suami istri tersebut adalah orangtua. Dan si pemuda adalah kita. Haruskah kita termakan janji “pemuda lain” yang kita sebut teroris dan mengorbankan semua yang kita sayangi hanya untuk “janji bidadari” yang entah ada atau tiada. Takdirmu adalah takdirmu pemuda, bukan takdirku.

#DutaDamaiDuniaMaya
#2016

Dengan